Kas Pani

Ternyata waktu begitu cepat berlalu, lari bagaikan kilat. Kalau dari dulu aku tahu seperti itu, tentu tiada kesia-siaan dilakukan. Kas Pani, pengawas sekolah SM...

Selengkapnya
Kenangan ItuTetap Lekat Di Ingatan

Kenangan ItuTetap Lekat Di Ingatan

Malam itu, 16 Agustus 2017. Jantung peserta Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Berprestasi dan Berdedikasi Daerah Khusus berdegup kencang. Pasalnya, malam ini diumumkan perwakilan yang akan menghadiri Upacara Detik-detik Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka Jakarta.

Alhamdulillah, nama saya termasuk diantara yang diumumkan pukul 23.30 Wib malam itu. Istirahat cuma tiga jam. Pukul empat dinihari dibangunkan bersiap-siap untuk berangkat.

Bus membawa rombongan menembus embun yang masih tersisa di jalanan. Jakarta saya lihat seakan tak pernah tidur, jalan penuh dengan kenderaan.

Setelah beberapa saat di Bus, kami nyampe, saya dan beberapa teman turun shalat subuh di seputaran Monas. Saat itu pntu gerbang istana belum dibuka. Tapi warga sudah banyak yang datang.

Menjelang pagi, kami dipersilahkan masuk gerbang dengan mengantri. Paspamres mengatur undangan dengan sangat simpati, diarahkan sesuai dengan huruf dan nomor yang tertera pada kartu undangan.

Suasana istana meriah dan ramai, tetamu terus berdatangan, kami yang kebetulan cepat datang mendapat tempat duduk yang strategis dan nyaman. Sebelum menuju tempat duduk, diberi paket bingkisan berisi air mineral, kue, kaos, topi dan banyak lagi. Cukup berat juga bawanya.

Sementara, di panggung lain, Lagu-lagu Nasional dari murid sekolah asuhan Purwacaraka bergema indah. Sebelum upacara dimulai, Presiden Joko Widodo bersama para menterinya mengunjungi setiap tamu dengan memakai pakaian adat. Saya tidak ingat pakaian adat yang dikenakan presiden dan istrinya kala itu. Yang saya ingat Menteri Yasonna Laoly mengenakan busana kampung halamannya Nias.

Saya merasakan, kesakralan dan sombongnya istana hilang saat itu, yang ada keramahan dan lubernya rakyat dengan pemimpinnya.

Hanya saja, perasaan saya dan beberapa teman ketika itu sedikit terganggu dengan ketegasan Paspamres yang tidak mengizinkan para undangan masuk istana yang cuma untuk berfoto seusai upacara berlangsung.

Saya dan teman dari Nusa Tenggara Timur, diam-diam saat punggawa istana lengah, masuk dan berhasil selfi. "Rasain lu, nyatanya dapat juga." Ujar kami ketawa.

Seusai upacara, saya dan teman-teman menyempatkan diri berkeliling istana. Tepat di depan kami, berdiri Panglima TNI, Bapak Gatot Nurmantyo, sempat bersalaman, tapi minta foto takut ah, perasaan pengawalnya sangar banget. Sedangkan Pak Gatot senyum-senyum saja. Saya melihat ada emak-emak yang minta foto bareng.Yah, beliau bersedia.

Menjelang siang, suhu Kota Jakarta terasa panas, kipas plastik yang dimasukkan dalam bingkisan ternyata ada manfaatnya. Kami menggunakannya saat istiraahat.

Setelah bebarapa jam di lingkungan istana ada niat untuk meninggalkan istana. Di pojok dekat tenda, kami menghentikan langkah, ada sesuatu menggoda, pada beberapa lapak tersiusun majalah dan koran. Saya mendekat, lalu disilahkan untuk memilih majalah dan koran yang sengaja diberikan gratis untuk pengunjung. Saya mengambilnya sepuluh majalah dan lima surat kabar. Berat juga angkatnya, tapi tak apa mumpung gratis, apalagi saya memang gila baca.

Sambil memasukkan bawaan ke tas ransel, saya menyarankan teman untuk menghubungi ketua rombongan, menanyakan kapan kembali ke Hotel.Tetapi tiap kali ngebel hp tidak nyambung, signal hilang timbul.

" Apaan nih Jakarta, signal saja tak jelas. " teman ngomel.

" Memang disengajain gitu, signalnya timbul tenggelam, diacak sih, demi keamanan." Ujar teman dari Jakarta tertawa.

Saya juga baru tahu. Pantasan beberapa kali ngebel kadang nyambung kadang tidak. Akhirnya, dengan kerelaan kami kembali ke parkir bus.Ternyata, sopir dan teman - teman sudah lima belas menit menunggu. Nyaris saja ditinggalkan. Yang jelas kenangan indah di Istana Merdeka masih lekat di ingatan.]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Masya Allah, Pak Kas dapat sambangi istana presiden . Sukses selalu dan barakallah fiik. Ralat di Ingatan bukan Diingatan.

17 Aug
Balas

Alhamdulillah, sudah diingatkan. Terima kasih Bu Siti.

17 Aug

Bagus..Pak Kaspani.. membangkitkan semangat teman-teman untuk berprestasi.

17 Aug
Balas

Betul sekali.Semoga yang muda semakin berprestasi.Terimakasih.

17 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali